Minggu, September 22, 2019

Kata-Kata

Photo by Timothy Eberly on Unsplash

Deretan kata-kata
Yang tersusun menjadi rasa
Terkadang dibalut dengan alunan nada
Atau hanya untaian puisi
Yang diucap penuh arti

Sepenggal kalimat di atas langsung muncul dalam pikiran ketika ingin mulai menentukan genre tulisan. Awalnya suka mendengarkan lagu, iramanya menenangkan atau bisa menyemangati. Dulu sampai harus menyediakan satu buku khusus untuk mencatat lirik lagu. Macam-macam lagu pop yang hits pada masa itu. Tapi sampai sekarang pun ada band favorit yang lagunya masih enak didengar dan dinikmati.

Dari lirik lagu-lagu itu merasakan bahwa makna hati bisa disampaikan melalui Kata-kata. Semenjak saat itu mulai mencoba menulis puisi, walaupun kalimatnya acak-acakan dan bahkan berantakan. Tapi selalu belajar, belajar, dan belajar agar isi hati dapat tersampaikan.

Pada mulanya membuat puisi sebagai media curhatan. Ingin menyampaikan emosi secara langsung namun terkadang sulit, lisan terasa terkunci. Maka puisi menjadi jalan untuk meluapkan isi hati. Menulis puisi walaupun hanya sekedar di buku harian dulunya, namun sungguh menyenangkan.  Atau terkadang membaca puisi yang ada di media surat kabar.

Pada masa sekolah dulu saat pelajaran bahasa Indonesia rasanya sangat senang. Itu adalah pelajaran kesukaan, karena pasti bertemu kata-kata yang banyak. Bisa belajar tata bahasa. Terutama ketika ada tugas membuat puisi atau cerita-cerita pendek. Sungguh semangat mengerjakannya, juga bisa bertukar cerita dengan teman-teman.

Saya suka puisi. Terdiri dari beberapa bait namun bisa mewakili isi hati. Selama ini hanya mengetahui untuk selalu menulis, tidak pernah terpikirkan termasuk genre apa tulisan saya. Selama di ODOP, saya belajar banyak. Ternyata tulisan saya termasuk fiksi. Terimakasih ODOP dan teman-teman yang ada di grup sudah banyak membantu saya, memberi masukan dan berbagi ilmu.

Terutama tim Sapporo yang selalu mengingatkan dan menyemangati ketika saya nge-blank.  Terkadang rasa malas menulis muncul, atau ide yang suka pergi begitu saja. Masih ada minggu-minggu berikutnya yang harus dilalui. Untuk kita semua, semangat menulis, semangat berkarya. One Day One Post.

Sebelumnya
Selanjutnya

21 komentar:

  1. Wah, mbak lusi ternyata senang menulis puisi. Tapi selama bw kayaknya saya belum mengunjungi tulisan puisnya. Kapan-kapan deh ya. Semangaattt

    BalasHapus
  2. Semangat kak, mari kita lawan sama rasa malas itu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  3. Wah ternyata mba Lusi seorang pujanggi toh...

    Ajari saya dong, saya kalau bikin puisi tuh kok kaya hambar ya... nggak ada puitis puitisnya gitu...
    *eh curhat πŸ™ˆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga masih banyak kekurangan mba...kita sama-sama belajar ya mba

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Wah, pecinta puisi. Semangat kak

    BalasHapus
  6. Dulu pas masih SMP, aku juga suka nulis lirik lagu terutama yang berbahasa Inggris. Buat gaya-gayaan dan belajar hahahaha. Tapi sekarang udah enggak, males ��

    Nulis fiksi itu sulit lho, aku salut sama temen2 yang bisa nulis fiksi

    BalasHapus
  7. kalau dilihat dari template bloggernya sih emang blog Mbak Lusi ini Fiksi banget, berkolaborasi dengan puisinya Mbak, kan jadi menarik untuk dibaca ...

    BalasHapus
  8. Saya juga suka puisi
    Penikmat puisi juga, ayo mba lusi bikin puisi biarkan yang membaca ikut hanyut di dalamnya 😊

    BalasHapus
  9. Ajarin bikin puisi dong mba... Heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga masih harus banyak belajar mba

      Hapus
  10. Kapan kapan buat puisi untuk Sapporo you, Kak Lus~

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah kak...semoga nanti puisinya nggk mengecewakan

      Hapus
  11. Yeayyy yeayyy...! Semangat terus Sapporo Squad!:D
    Bagus mbak LUSI! ;)

    BalasHapus