Jumat, November 15, 2019

Sebuah Tulisan Yang Menyentuh Hati

Photo by Lina Trochez on Unsplash

Kenyamanan merupakan hal sederhana, namun akan sulit didapat ketika situasi dan kondisi tidak mendukung atau bahkan mustahil untuk sekedar dipikir dengan logika. Semisal, dengan menegak secangkir air putih, disaat-saat tenggorokkan merasakan kehausan. Berteduh di bawah tempat yang rindang, untuk sejenak bersembunyi dari teriknya matahari. Bisa duduk bersantai di rumah beserta keluarga, pergi bersekolah dengan teman-teman seumuran, dan bisa bermain ketika sudah selesai mengerjakan tugas-tugas di rumah.

Kegiatan yang wajar untuk sehari-hari dikerjakan. Pemandangan yang sering terlihat dan umum untuk para masyarakat. Namun, setelah membaca sebuah cerpen yang ditulis oleh Mba Dyah Yuukita, perasaan sedih akan kisah yang ditulis langsung muncul. Dengan kalimat yang mudah dimengerti, para pembaca akan terbawa suasana dengan kegigihan dua orang bocah kecil dalam bertahan hidup, tanpa adanya orang tua.

Cerpen tersebut berjudul “Ikan Harapan”. Bercerita tentang seorang kakak yang berusia masih sangat muda tinggal berdua dengan adik kecilnya. Sepeninggalnya sang ibu, maka mereka harus bisa berjuang dikerasnya perlakuan orang-orang dewasa.

Pada awal kisah menceritakan bahwa, kedua kakak beradik ini suka menjajakan dagangan. Membawa kantong plastik, dan menawarkan isinya kepada orang-orang yang lewat. Berlatar belakang tempat di sebuah pinggiran anak tangga JPO. Membaca di paragraf ini sudah membuat hati bersedih. Mba Dyah turut menggambarkan suasana pada sore hari, dengan menuliskan kalimat yang menunjukkan kata-kata langit senja.

Seusia mereka seharusnya dapat bersekolah dan belajar dengan tenang. Namun, kakak beradik ini harus berjualan seharian, dan itupun tidak ada yang laku, pada hari itu. Menjajakan sekantong plastik yang berisi tisu-tisu.

Benda yang sering digunakan, juga sering boros pemakaiannya. Justru itu menjadi ladang rezeki bagi kakak beradik ini. Uang yang didapat bisa menjadi penghasilan mereka, digunakan untuk membeli makanan, juga diberikan kepada seorang preman yang selalu meminta dengan paksa hasil yang telah susah payah didapat.

Konflik pertama yang muncul dalam cerpen ini ialah, ketika mereka dihina oleh seorang pria kaya, pada saat sang adik ingin melihat ikan di sebuah rumah mewah. Latar tempat ini dijelaskan tempat tinggal yang luas, dan berpagar tinggi. Kemiskinan ini menjadi bahan celaan, bahkan sumpah serapah yang tidak berguna pun dikeluarkan, dan ditujukan kepada dua orang anak kecil itu.

Lalu, konflik kedua ketika mereka tidak berhasil menjual  dagangannya, hal itu mengharuskan mereka mendapatkan hukuman. Setoran rutin yang harus diberikan, dari hasil penjualan tisu-tisu itu. Saat sang kakak rela menggantikan adiknya untuk dipukul oleh Om gendut, sang preman tersebut. Telapak tangan mungil itu pun berubah membengkak.

Penjelasan latar waktu untuk kejadian ini, ialah menjelang malam dan pagi hari. Ketika mereka pulang setelah menjajakan dagangannya, dan saat sang kakak bangun ke esokan harinya, dan menyadari telapak tangan terasa perih dan bengkak.

Konflik ketiga dan terakhir, menjadi bagian yang sangat memilukan. Mereka berdua sampai harus meregang nyawa untuk hanya sebuah kebahagian kecil. Sang kakak sering menabung, sedikit demi sedikit. Ketika sudah dirasa cukup, ia ingin membelikan adiknya seekor ikan. Namun, hal itu menjadi petaka bagi mereka. Pria kaya yang sedari awal menghina mereka, kini menuduh dengan sembarangan. Bahwa dua bocah ini telah mencuri ikan miliknya.

Tidak cukup dengan memberikan fitnahan, pria kaya itu juga memukili mereka berdua hingga akhirnya tewas. Cerpen ini menceritakan kisah kesedihan. Dengan alur maju yang saling terhubung satu sama lain.

Penjelasan mengenai latar tempat dan waktu, benar-benar membuat membacanya sambil membayangkan setiap peristiwa yang dikisahkan. Dan hal ini membuat banyak hal yang bisa disyukuri. Beberapa orang terkadang melihat dan menganggap sesuatu sebagai hal yang kecil dan remeh. Namun, dilain pihak merupakan kegiatan mewah dan menyenangkan hati.

Oleh sebab itu, beryukurlah atas apa yang dimiliki saat ini. Tidak perlu mengeluh, semua sudah ada batas dan porsinya masing-masing. Terimakasih untuk tulisannya Mba Dyah. Nah, masih banyak kisah-kisah menarik lainnya. Langsung saja kepoin di www.ngodop.com, lalu klik menu lakon, ada cerpen-cerpen super keren di situ. Selamat membaca!
Sebelumnya
Selanjutnya

8 komentar:

  1. Auto pengen baca cerpen nya๐Ÿ˜€

    BalasHapus
  2. Wahh setelah membaca ulasan ini, saya ikutan sedih ๐Ÿ˜… Terima kasih sudah mau mengulas cerpen saya ๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih juga untuk cerpennya mba..kisahnya bagus

      Hapus
  3. Wah. Aku pun terharu. Aku mau baca juga^^

    BalasHapus