Minggu, Oktober 20, 2019

Menghapus Pupus

Photo by Marion Michele on Unsplash
Pijakan rapuh
Langkah tertatih

Bangun dan beranjak dari tanah basah
Sudah melebur ke dalam sukma
Membuang jauh-jauh pikiran busuk yang mengajak lagi berpasrah

Desiran angin lembut
Terasa menggit dingin di kulit
Tubuh terhuyung
Pandangan samar berkabut

Gemercik air sungai
Nyaring terdengar
Berdebar-debar
Menanti-nanti
Terbawa penasaran, kemana hulunya berujung

Perlahan tampak berubah
Perlahan tampak indah
Terhampar bianglala
Di langit biru, yang dulunya kelabu
Sebelumnya
Selanjutnya

9 komentar:

  1. Suka kak.
    Susah emang kalau kata pasrah mengahmpiri.

    BalasHapus
  2. Masih mencoba meresapi, pesan penulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm...semoga bisa tersampai dengan baik bang

      Hapus
  3. Dan hanya kepada-Nya lah
    Kita berpasrah
    Atas segala gundah

    BalasHapus
  4. Semoga bianglala yang sementara mengabadikan syukur di dalam sukma

    BalasHapus
  5. Jangan dekati aliran sungai itu
    Kau tau? Bisa saja derasnya mengajakmu berenang
    Kita tahu akal busuk sungai itu
    Bisa saja nyawamu akan melayang.


    BalasHapus
  6. Wah bagus kak puisinya 👍

    BalasHapus